Serba – Serbi Wakaf Dan Solusi Berwakaf Di Era Digital

4 tahun lalu adikku berkisah tentang murid lesnya bernama Icha ( 11 tahun), gadis ini hanya diasuh oleh ibunya. Demi membantu ibunya yang single parent, dia bekerja serabutan di tempat yang sebenarnya kurang kondusif buat perkembangan anak – anak. Namun yang menjadikan aku trenyuh adalah keinginannya untuk mengenakan jilbab. Tiap kali les di tempat adikku Icha ini bajunya sopan sekali dengan jilbabnya walaupun kekecilan. Dia bahkan sering menangis, karena keinginannya untuk berangkat sekolah menggunakan seragam panjang dengan jilbab.

Icha dengan Jilbabnya

Melihat itu, adikku kemudian berinisiatif untuk mencarikan jilbab dan baju yang pas untuk Icha. Postinglah dia di halaman social medianya menceritakan tentang Icha dan keinginannya untuk berjilbab. Tidak menunggu lama beberapa teman konfirm akan menyumbangkan beberapa jilbab dan baju buat Icha. Alhamdulillah berkat the power of social media yang merupakan salah satu kemudahan informasi di era digital ini akhirnya Icha bisa bersekolah dengan seragam panjang dan mempunyai beberapa jilbab yang pas buatnya.


Lihat respon teman – teman ini, terbersit ide untuk membuat sebuah gerakan Wakaf Jilbab. Beberapa hari setelah diluncurkan program wakaf jilbab ini, sungguh diluar dugaaan. Banyak pihak merespon dengan antusias. Ada 24 proposal pengajuan, dengan permintaan jilbab besar, jilbab anak – anak, gamis dan lain – lain. Respon pemberi wakafpun tidak kalah banyak, bahkan ada yang berdonasi dengan uang untuk bea pengiriman jilbab.

Tidak terasa program wakaf jilbab ini sudah berjalan hampir 4 tahun. Kami sudah banyak menyalurkan jilbab ke berbagai pihak yang membutuhkan termasuk ketika terjadi bencana gempa di Lombok dan Palu.

Dulu, aku tahunya wakaf itu berupa pemberian tanah untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan umat seperti mendirikan tempat mengaji, sekolah, masjid, jalan dan lain – lain. Ternyata wakaf tidak melulu berbentuk tanah, melainkan bisa berupa barang / benda yang bernilai produktif baik itu benda bergerak atau tidak bergerak. Seperti uang, mobil termasuk juga pakaian dan jilbab.

Temanku Mewakafkan rumahnya untuk kegiatan belajar anak putus sekolah setiap hari kamis,jumat dan Sabtu

Rasulullah SAW pernah bersabda ” Jika seseorang telah meninggal, terputuslah semua amalannya kecuali 3 perkara, (yaitu ) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak shaleh ( HR. Bukhori)

Sedekah jariyah ini termasuk didalamnya adalah wakaf. Insya Allah dengan berwakaf pahala akan terus menerus mengalir selama barang yang diwakafkan produktif dan bermanfaat walaupun orang yang berwakaf sudah meninggal.

Lantas selain mengalirkan pahala terus menerus buat yang berwakaf, apa saja manfaat wakaf yang lain? Manfaat yang lain adalah bisa menumbuhkan jiwa sosial, jika kita berwakaf pasti akan menimbulkan kepekaan untuk selalu membantu terhadap sesama. Semakin banyak orang yang terbantu maka semakin banyak pula pahalanya.

Selain itu Wakaf berguna untuk membantu orang lain agar mendapatkan fasilitas yang layak. Seperti ketika kita mewakafkan tanah untuk dibangun sebuah fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, masjid, jalan dan lain – lain.

Ada satu lagi keistimewaan wakaf, yaitu pahalanya bisa diatasnamakan orang lain. Jadi bisa saja kita berwakaf atas nama ibu kita yang sudah meninggal. Maka pahalanya juga bermanfaat buat ibu.

Pembaca semua tentunya mau kan mempunyai pahala yang akan mengalir terus menerus. Nah, ada baiknya sebelum kita berwakaf, kita cari tahu dulu apa hukum, rukun dan syarat wakaf.

Hukum wakaf
Menurut hukum islam wakaf adalah menyerahkan hak milik yang tahan lama kepada seseorang atau kelompok yang bisa dimanfaatkan sesuai syariat islam. Wakaf bersifat sunah, dan harta yang diwakafkan semata – mata menjadi hak Allah dan tidak boleh dijual belikan.

Rukun Wakaf
Ada 4 rukun wakaf, yaitu :

  1. Orang yang berwakaf ( wakif)
  2. Orang yang diberi wakaf
  3. Barang yang diwakafkan (mauquf)
  4. Ikrar penyerahan wakaf

Syarat Wakaf

Sedangkan syarat syahnya wakaf adalah :

  1. Harta yang diwakafkan berwujud nyata / bernilai dan halal.
  2. Orang yang berwakaf hendaknya merdeka, berakal sehat, dan dewasa.
  3. Penerima wakaf jelas baik perorangan maupun organisasi.
  4. Tidak terikat jangka waktu atau harus selamanya.
  5. Ada ikrar antara pewakaf dan yang menerima wakaf.

Sudah cukup jelas bukan ? Seandainya masih ada hal – hal yang harus ditanyakan soal wakaf, pembaca bisa berkonsultasi secara online di laman web Bimasislam agar lebih jelas dan mantap apabila anda ingin berwakaf.

Apalagi di era digital seperti sekarang ini memudahkan kita untuk mengakses informasi dan juga bertransaki secara online. Termasuk juga ketika kita hendak berwakaf, ada banyak lembaga wakaf yang membuat applikasi dan menyediakan fitur transaksi online dalam penerimaan dan penyaluran wakafnya. Dengan adanya aplikasi wakaf online, diharapkan memudahkan siapa saja yang ingin menunaikan wakaf dengan cepat. Sehingga penyaluran wakafnya pun bisa cepat.

Apalagi seperti saya, sebagai ibu rumah tangga yang sudah pasti banyak urusan domestik yang harus diselesaikan, berwakaf secara online sangat membantu. Saya tinggal buka applikasi wakaf lewat gawai dan membayar wakafnya dari rumah.

Tapi sebelum bertransaksi, ada baiknya anda mengecheck terlebih dahulu lembaga pengelola wakafnya ( Nadzir), apakah sudah terdaftar resmi di Badan Wakaf Indonesia ( BWI) apa belum.

Pada dasarnya siapa saja berhak menjadi nadzir, namun karena tugas nadzir menyangkut harta benda yang pemanfaatannya harus sesuai dengan syariah Islam, sehingga sangat penting apabila ketika akan menunaikan wakaf harus terlebih dahulu mengetahui profil nadzirnya, baik nadzir perorangan atau organisasi. Dengan begitu harta yang kita wakafkan bisa tersalurkan di orang yang tepat dengan baik.

Semoga dengan informasi ini bermanfaat untuk umat Islam yang hendak berwakaf.

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti lomba blog Literasi Zakat Wakaf dan Bimasislam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *