Pentingnya Sosialisasi Budaya Sadar Bencana, Sehingga Masyarakat Siap Untuk Selamat

Beberapa tahun terakhir ini ada yang sering bikin saya sedih ketika musim kemarau datang. Tidak lain karena terjadi dua bencana yang melanda Indonesia yaitu kebakaran hutan dan kekeringan disepanjang musim kemarau. Penyebab terjadinya kebakaran hutan tentu saja karena ulah manusia baik disengaja maupun tidak sengaja. Kebanyakan karena membuang puntung rokok sembarangan ketika mendaki gunung, bahkan ada yang sengaja membakar hutan milik perhutani demi untuk membuka lahan pertanian.

Dan di musim kemarau kali ini kebakaran hutan terjadi di Provinsi Riau dan Kalimantan tengah mengakibatkan kabut asap yang sudah menutup jarak pandang dan juga mengganggu pernafasan. Korbannya bukan hanya manusia tapi lebih banyak hewan – hewan yang menghuni hutan sana. Orangutan, ular phyton, harimau sudah kehilangan tempat tinggalnya.

Tak jauh di tempat tinggal saya di Temanggung, sebuah kota berhawa sejuk yang diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini juga tidak luput dari bencana kebakaran hutan dan juga kekeringan.

Pemandangan dua Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang indah di Temanggung

Kekeringan yang terjadi di wilayah Temanggung ini biasanya karena debit air yang semakin mengecil. Debit air yang sedikit itu tentu saja karena akibat penggundulan hutan. Bayangkan saja, pada tahun ini ada 12 kecamatan yang mengalami kekeringan. Tiap hari untuk keperluan MCK warga bergantung pada dropping air yang tentunya terbatas.

Beda lagi ketika hujan, bencana Longsor dan tanah bergerak mengintai. Tanah longsor ini bisa terjadi juga karena hutan semakin gundul akibat perluasan lahan pertanian.

Rasanya sedih, kenapa sih kita enggak bisa jaga alam dengan baik ? Bukannya kalau kita jaga alam, alam akan menjaga kita?

Melihat beberapa bencana yang terjadi, mestinya kita harus mulai membiasakan untuk budaya sadar bencana alam. Bukankah Indonesia ini juga sering dijuluki “laboratorium bencana”? Karena hampir semua jenis bencana ada. Budaya sadar bencana harus terbentuk di setiap individu, sehingga tiap orang bisa paham ancaman bencana yang terjadi di wilayahnya dan juga bisa memahami bagaimana sistem peringatan bencana bekerja. Dengan begitu, ketika terjadi bencana korban bisa diminimalisir.

Sosialisasi budaya sadar bencana tentu sangat diperlukan. Mengingat ancaman bencana bisa datang kapan saja padahal sikap sadar bencana belum menjadi perilaku sehari – hari di masyarakat.

Lantas langkah – langkah apa saja yang harus BNPB lakukan supaya sikap sadar bencana menjadi budaya di masyarakat? Antara lain yaitu :

1. BNPB bisa bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukkan materi kebencanaan untuk dimasukkan kedalam kurikulum pelajaran.

2. BNPB melalui BPBD tingkat kabupaten bisa bekerjasama dengan pemerintah desa maupun kecamatan mengadakan sosialisasi berupa pelatihan budaya sadar bencana. Agar semua lapisan masyarakat bisa bahu membahu meminimalisir korban apabila terjadi bencana.

3. Memberikan pelatihan mitigasi bencana, bisa bekerja sama dengan komunitas-komunitas pecinta lingkungan, masyarakat umum maupun siswa sekolah. Sehingga senada dengan tagline-nya BNPB yaitu Kenali bahayanya, kurangi risikonya, masyarakat awam bisa meminimalkan resiko dengan mengenali tanda – tanda alam sebelum bencana terjadi.

Dengan adanya beberapa contoh sosialisasi diatas, diharapkan ketika bencana benar – benar terjadi, masyarskat Siap untuk selamat.

Untuk itu Kepada siapapun manusia di bumi ini, mari kita saling menjaga ekosistem alam dan isinya. Jangan turuti hawa nafsu hanya untuk membuka lahan pertanian, tidakkah kamu berfikir banyak jiwa yang tersakiti ? Berapa banyak anak – anak yang harus kena penyakit ISPA? Berapa banyak hewan – hewan harus kehilangan tempat tinggalnya? Riau dan Kalimantan menjadi contohnya, betapa hawa nafsu manusia bisa memakan banyak korban.

Salam Lestari !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *