Keputusan

“Sekarang mau kamu gimana? Kalau kamu minta aku harus bertanggung jawab atas kamu.. ayo, kita sama-sama berjuang, kita yakinkan orang tua kamu”

Aku tidak bisa menjawab, nyatanya aku hanya terdiam di sofa Membenamkan kepalaku dengan bantal. Aku mencintainya, tapi aku tidak yakin bisa bahagia kalau harus menikah dengannya.
Sudah sangat jelas orang tuaku bakal tidak setuju dengan hubungan kami. 3 tahun bukan waktu yang singkat, tapi entah kenapa aku bisa bertahan begitu lama, hanya karena cinta.

Aku menarik nafas dalam-dalam, dengan berat hati aku berkata sambil setengah mati berusaha agar air mata ini tidak keluar.
“Maaf Mas, aku menyerah, bukannya aku lelah berjuang, tapi aku enggak yakin bisa membujuk bapakku… karena yang seharusnya berubah adalah kamu”

Lelaki di depanku ini memang keras kepala, dia tidak bisa dipaksa. Termasuk tentang keyakinannya yang atheis. Jangan ditanya beberapa kali kami berdebat tentang Tuhan. Tetap saja dia pada pendiriannya.

“Kalau lagi sedih atau pengen minta sesuatu.. mas doanya gimana?” Tanyaku suatu hari.
Dengan diplomatis dia menjawab
“Lho emang atheis tidak boleh berdoa, aku tetap berdoa.. karena berdoa sama saja dengan berharap, berharap lebih baik”

Dan entah kenapa, setiap kali kami ber-argue, malah buat aku makin mengaguminya. Uhh.. I love the way he said. Jawabannya, bantahannya, argumennya malah membikin aku semakin klepek-klepek. Mungkin aku yang bodoh, mencoba bertahan demi cinta yang dalam.

Dan setelah 3 tahun bersenang-senang tanpa mikirin mau dibawa kemana hubungannya, lantas aku tersadar wanita punya biologic time. Aku pengen juga berumah tangga, aku pengen punya anak. Kalau hanya menunggu dia buat berubah, terus mau sampai kapan lagi aku harus menunģgu? Orang tuaku juga sudah beberapa kali berusaha mengenalkanku dengan beberapa pria. Berharap aku bisa melepaskan hubungan dengannya.

Ya… semakin kesini semakin sadar, bahwa cinta juga harus pakai logika. Karena keyakinanku tidak harus dikalahkan dengan cinta buta.

Setelah aku berkata bahwa aku menyerah, dia lantas berlalu
“Aku pamit yah..aku tidak menyesal dengan keputusan ini, terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku.”

Setelah kepergiannya, jangan ditanya sesedih apakah aku. Yang jelas air mata ini ngga berhenti menetes. Aku tidak menyesal sudah pernah berbagi bahagia dengan dia. Akupun pernah berupaya keras mempertahankannya. Namun semua terlihat sia-sia, aku mencintainya dalam kelelahan. Hingga berpisah menjadi suatu keputusan terbaik, walaupun kenyataannya hatiku hancur.

Apakah hati harus dipatahkan dulu, hingga suatu hari nanti aku bisa bertemu dengan seseorang yang bisa merawat hatiku lagi yang sudah hancur ?
Seseorang yang mampu membuat perasaanku berbunga kembali.
Ya.. semoga, suatu hari nanti.. Bismillah, aku hanya ingin taat kepadamu ya Allah.

2 thoughts on “Keputusan”

  1. Gimana ini caranya biar post di fb bisa muncul sedikit gambaran blognya mbak. Kalo saya mesti copy linkd deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *