Selamat Jalan Sang Maestro…
Seniman alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta 1962 ini, selalu siap menerima siapa pun yang sanggup diajak “berdiskusi” selama berjam-jam di studionya di Jl. taman siswa Yogyakarta. Sukasman, memang selalu punya bahan obrolan. Mulai tentang filsafat Jawa, wayang, seni rupa, hingga kondisi masyarakat jaman sekarang. Kegelisahannya akan nasib budaya Jawa yang makin terpinggirkan di negeri sendiri, membuatnya menciptakan wayang jenis baru, yang mengakomodasi budaya modern, yaitu “Wayang Ukur”. Kata ukur lebih karena pembuatannya selalu didahului dengan mengukur. Kehandalan Sukasman sebagai seniman serba bisa tak hanya digunakan untuk membuat wayang. Di studionya nampak beberapa patung hasil karyanya. Salah satunya yang mengagumkan adalah bola dunia raksasa dari fiberglass dilingkupi ukiran berujung bentuk hati. Ajaran yang selalu disampaikannya adalah perlunya semua makhluk di dunia ini untuk “kawin”. Yaitu saling menyatukan budaya yang dibawa oleh masing-masing individu agar tercipta cinta yang hakiki.
Suara gamelan bertalu-talu mengiringi kepergian Ki Sukasman di Mergangsan II/1308, Yogyakarta. Prosesi pemakamannya berubah menjadi sebuah pentas wayang. Seorang dalang–diperankan oleh penari Miroto–memainkan anak wayang Semar, Togog, dan Batara Guru di kelir dengan tata cahaya yang digarap serius.
Tepat di depan kelir, tergolek sebuah peti mati terbungkus kain putih. Di dalam peti mati itu, terbujur jenazah Ki Sigit Sukasman, 73 tahun, seorang tokoh seniman pencipta wayang ukur. Tiga tokoh wayang ukur itu memang sengaja dimainkan untuk melepas kepergian penciptanya, Ki Sukasman, ke pemakaman.
Tak hanya Miroto, sebagai dalang yang menangis, tapi juga ratusan pelayat mencucurkan air mata menyaksikan adegan sangat mengharukan itu. Gendhing Tlutur yang dimainkan secara langsung oleh para murid Ki Sukasman semakin menambah suasana sedih. “Mas Kasman telah mencapai ukuran yang sejati,” kata budayawan Sindhunata SJ saat melepas jenazah di rumah duka.
Ki Sigit Sukasman mengembuskan napas terakhir di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Ia sempat dirawat selama dua hari akibat keluhan sesak napas. “Beliau memang punya penyakit paru-paru,” kata Bambang Paningron, anak angkat Ki Sukasman.
Ki Sigit Sukasman sejatinya bukan seorang dalang. Lelaki 73 tahun itu justru seorang perupa. Namun, kecintaannya terhadap wayang melebihi dalang mana pun. Tenaga, pikiran, bahkan seluruh hidupnya
tercurah untuk dunia pewayangan.
Selamat Jalan Ki.. Selamat Jalan Sang Maestro…




















Kirimkan Komentar Anda..